Classic Confusion

According to Wikipedia (I only use the best resources for my blog), we are Generation Y. This roughly includes people born in the ’80s and early ’90s, if my loyal online encyclopedia is being truthful.

I realize I’m not a revolutionary by pointing out that sometimes people my age are ridiculous, but hey, it’s 2012 and all the original ideas have been used.

Some things I just don’t understand:

1. Wearing sweatpants or *gasp* pajamas outside. To go see people. Or go out to eat. Yes, I own sweatpants and even pajamas, but they for the house, to get the mail, or to walk the dog.

I wore sweatpants to school ONE DAY in grade 5. I remember it vividly. They were light heather grey with a light blue stripe running up the side. I was feeling uncomfortable all morning, and then our very well-dressed French VP came in to visit the class…

Lihat pos aslinya 559 kata lagi

Everything is for Allah's sake

HADITS-HADITS DHA’IF DAN MAUDHU’

Hadits-hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam ada yang shahih, hasan, dha’if (lemah), dan maudhu’ (palsu).

Dalam kitab haditsnya, Imam Muslim menyebutkan di awal kitab sesuatu yang memperingatkan tentang hadits dha’if, memilih judul: “Bab larangan menyampaikan hadits dari setiap apa yang didengar.” Berdasarkan sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Salam,

“Cukuplah seseorang sebagai pendusta, jika ia menyampaikan hadits dari setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Imam Nawawi dalam kitabnya Syarah Muslim, menyebutkan: “Bab larangan meriwayatkan dari orang-orang dha’if (lemah).” Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam,

“Kelak akan ada di akhir zaman segolongan manusia dari umatku yang menceritakan hadits kepadamu apa yang kamu tidak pernah mendengarnya, tidak juga nenek moyang kamu, maka waspadalah dan jauhilah mereka.” (HR. Muslim)

Imam lbnu Hibban dalam kitab Shahih-nya menyebutkan: “Pasal; Peringatan terhadap wajibnya masuk Neraka orang yang menisbatkan sesuatu kepada Al-Mushthafa (Muhammad), sedangkan dia tidak mengetahui kebenarannya.” Selanjutnya…

Lihat pos aslinya 1.806 kata lagi

Technology in Education

A group in my Teaching Writing & Language class did an article presentation today on technology in education. Normally I would just daze out for their allotted 10 minutes, but this one managed to grab my attention from the get-go. Their presentation consisted of a Prezi slide with a bunch of alternating twitter statuses… Huh?

The premise of the presentation was that as the group was going through their material, just before they had a point to make, somebody would text the bullet point from their phone and it would show up in live time on the slide. They also encouraged our class to try it and we could post comments or questions about their presentation while it was happening. Consider my mind officially blown.

This led me to wonder about how effective cell phones in class would be. In this case, using twitter in prezi, could be an interesting way to…

Lihat pos aslinya 133 kata lagi

usage and continuation

The tension that runs over and over through my thinking of art according to Alain Badiou is that of the construction of an allegorical structure of a subjectivity in particular works of art–a figure which would be adequate to our times (by going beyond out times)–and of the inter-workly construction on the level of the materials of a new intension (as François Nicolas would call it), an artistic truth-procedure (in Badiou’s language). The former is that of an allegorical presentation of subjectivity within a work, and the latter is the ‘actual’ subjective movement of an artistic truth itself across works.

My hunch is that it is not enough to simply instantiate in a particular work of art the historically ‘correct’ figure of subjectivity, nor is it enough to be part of a creative procedure of the thinking through of artistic materials (a truth procedure as the construction of a new onto-logical…

Lihat pos aslinya 461 kata lagi

Bocah Ethiopia Berwajah Ngeri Karena Membesarnya Pembuluh Darah

Vera Farah Bararah : detikHealth detikcom – Addis
Ababa, Ethiopia, Sekilas saat
melihat wajah
Samirawit, orang
akan merasa
ngeri. Ada
benjolan besar di mulut sebelah
kiri, tapi itu
bukan tumor atau kanker. Bocah 4 tahun asal Ethiopia ini
dilahirkan dengan kondisi venous
malformation yakni membesarnya
pembuluh darah. Kondisi venous malformation yang dialami
Samirawit Hallemariam sangat serius yang
jika tidak diobati bisa mematikan. Kondisi
venous malformation yang dialami Sami
juga langka, karena biasanya venous
malformation terjadi di kaki seperti varises. Tapi Sami mengalami pembesaran pembuluh
darah di wajah yang terus berkembang.
Untunglah dengan operasi yang super hati-
hati, kini wajah seram Sami bisa hilang
setelah ia melakukan operasi di AS. Sami tinggal di sebuah desa yang memiliki
perawatan medis sangat terbatas atau
bahkan bisa dibilang tidak tersedia. Namun
ia beruntung karena ditemukan secara tidak
sengaja oleh Michelle Sorscher di sebuah
klinik di Israel saat Sami sedang berobat disana. Michelle Sorscher adalah manajer perawat
untuk Dr Alejandro Berenstein dari Vascular
Birthmarks Institute of New York yang
waktu itu tengah berada di Tel Aviv untuk
membantu anak-anak lainnya. “Ketika Michelle datang ia hanya berkata
bahwa saya harus melihat anak ini. Ketika
kami melihat anak ini, kita segera tahu apa
yang terjadi dengannya,” ujar Berenstein,
kepala radiologi di St. Luke’s-Roosevelt
Hospital Center, seperti dikutip dari Foxnews, Kamis (8/9/2011). Berenstein menuturkan orang biasanya
berpikir venous malformation seperti
varises yang ada di kaki, tapi kumpulan
pembuluh darah ini terdapat di wajah yang
tidak bisa mengosongkan darah sehingga ia
tetap berkembang. Butuh pekerjaan yang
besar untuk mengatasi
kondisi Sami, hingga
akhirnya ia dibawa ke
Amerika Serikat pada
bulan Juni untuk melakukan pengobatan agar bisa
menyelamatkan nyawanya. Kondisi ini
membuat Sami harus meninggalkan
keluarganya di Ethiopia. Selama di AS, Sami memiliki ibu angkat yang
bernama Beverly Brandwine. Selama 2
bulan menjalani perawatan untuk
mempersiapkan operasi, Sami dan
Brandwine tidak pernah terpisahkan. “Venous malformation sangat berbeda
dengan lesi lainnya karena kondisi ini
dipenuhi oleh pembuluh darah besar. Jika
dilakukan dengan tidak tepat bisa berakibat
fatal karena kehilangan banyak darah
dalam waktu singkat,” ujar Dr Milton Waner yang bekerja sama dengan Berenstein. Dalam operasi ini, Berenstein menyuntikkan
sclerosants di daerah yang mengalami
venous malformation tersebut sehingga
terjadi pembekuan pada pembuluh darah
besar. Ketika darah sudah membeku, maka
Dr Waner mulai menghilangkannya. Pengobatan dengan sclerotheraphy ini
melibatkan suntikkan langsung ke
pembuluh darah. Pada kasus Sami ini ia
menjalani 3 sesi suntikkan untuk
memastikan hanya sedikit sekali darah yang
hilang selama prosedur tersebut. Operasi dilakukan pada 31 Agustus 2011
dan berlangsung kurang lebih sekitar 3 jam
untuk menghilangkan massa (benjolan)
tersebut karena ukurannya yang tipis. Tapi
semua yang terlibat dalam operasi ini
merasa sangat senang dengan hasilnya. “Sami bisa melewati operasi ini dengan baik,
dan saya pikir ia akan segera bangkit
kembali. Dia mungkin memiliki penyakit sisa di bawah kulitnya, tapi itu tidak akan
menjadi masalah besar dan ia akan terlihat
baik-baik saja,” ujar Dr Waner. Untuk beberapa bulan ke depan, Sami akan
diawasi dengan ketat untuk melihat apakah
ia membutuhkan tambahan prosedur agar
membuat wajahnya terlihat simetri. Setelah
itu ia akan kembali ke Ethiopia dan pergi ke
sekolah dengan ceria sama seperti anak- anak lainnya.
Twitter Button from twitbuttons.com
Twitter Buttons

Timnas Indonesia Sempat Berlatih di Lapangan Berkerikil

Oleh Danang Setiaji Prabowo | TRIBUNnews.com – Kam, 1 Sep 2011 TRIBUNNEWS.COM, TEHERAN – Jelang laga pra kualifikasi piala dunia zona Asia antara Iran melawan Indonesia, timnas Indonesia sempat dipersulit oleh official
timnas Iran yang memberikan lapangan berkerikil untuk latihan Firman Utina Cs. Kabar ini disampaikan Sarman, WNI yang saat ini berada di Teheran Iran, Kamis
(1/9/2011). Melalui sambungan telepon, Sarman menceritakan lapangan
berkerikil ini berada di Kompleks Olahraga Azadi. Pelatih timnas Indonesia, Wim
Rijsbergen pun sempat marah karena kondisi lapangan yang disediakan
berkerikil serta tidak ada garis lapangan. “Saya kira ini contoh yang tidak baik. Iran tidak memberikan fasilitas yang baik
untuk tamu. Timnas juga sempat diusir dari lapangan yang dipakai timnas Iran
untuk berlatih. Ini politik Iran yang tidak dewasa,” ujar Sarman. Dikatakannya, pihak Iran juga dinilai mempersulit karena menyediakan hotel
tempat menginap yang jaraknya cukup jauh dari tempat latihan. Menurutnya
kondisi psikologis pemain Indonesia cukup bagus dan kendala seperti itu
diharapkan tidak menjadi halangan untuk meraih kemenangan besok. “KBRI sendiri memberikan pelayanan yang cukup baik kepada rombongan
timnas kita. Masalahnya hanya dari pihak Iran yang kurang baik
pelayanannya,” katanya. Sarman menambahkan, saat timnas Indonesia berlatih, tidak ada warga negara
Iran yang menonton dan hanya warga negara Indonesia. “Ada tadi stasiun tv
lokal sini, tetapi di cut off sama official timnas kita sehingga tidak ada yang
menyaksikan,” imbuhnya.
Twitter Button from twitbuttons.com
Twitter Buttons

Friday’s Pick and Mix #56: New Nokia Maps hit the mobile web GLOBAL

Welcome once again to Friday,
the day of the week where our working
week comes to an end and our weekend is
in reach. It’s also the day we take a peek
at what’s been happening on other sites
around the vastness we call the World Wide Web. Have you caught our eye this
week? Find out, in Friday’s Pick and Mix,
number 56. This week, Nokia Maps for mobile web has made an appearance over at the Beta Labs.
For those of you that haven’t tried it
yet, it’s a HTML5 version of Nokia Maps
that lets those of you owning a phone
running iOS 4.3+ (mobile Safari), Android 2.2,
2.3 and Blackberry 6.0+ (experimental) navigate using Nokia’s fantastic mapping
service. For our huge Italian readership,
we’ve had our English-Italian
translation book out and noticed that
the Nokioteca blog are talking Nokia Maps. They list off some of the new
features to appear on Nokia Maps for
mobile web and have a good amount of
comments. If you can read Italian – or
at least find the translate button – join
in on their discussion and see what they have to say. What does Nokia Maps for mobile web
look like on an iPad? Well, thanks to
fellow Twitter user dontrammell, it looks like this: Enough of the still shot, let’s take a
look at Nokia Maps for mobile web in
action on an iPad- courtesy of the Ovi Blog According to Electricpig, “Nokia Maps for mobile is speedy as hell”. Well, we can’t argue with that. If you want to try it out for yourself,
point your browser at m.maps.nokia.com or alternatively, head on over to the Beta Labs for all the details.
Twitter Button from twitbuttons.com
Twitter Buttons