Makna Idul Fitri

Ketua Umum PP Muhammadiyah, H. Din Syamsuddin | Selasa, 30 Agustus 2011, 00:01 WIB VIVAnews – Setelah berpuasa selama bulan Ramadan, umat Muslim merayakan Hari Raya Idul Fitri. Mereka merayakannya dengan berbagai macam cara, dan
juga kondisi. Ada yang mudik, atau pulang ke kampung halaman bersama
keluarga. Ada pula yang harus merayakan Lebaran di tanah rantau. Bagi Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dr. H. Din Syamsuddin, perayaan Lebaran
bisa dinikmati dalam berbagai cara dan kondisi. Pria kelahiran Sumbawa Besar 31
Agustus 1958 itu juga memiliki bermacam pengalaman dalam merayakan
Lebaran. Sebagai tokoh masyarakat, Din punya pendapat sendiri tentang kebiasaan open
house yang kerap digelar oleh para tokoh elit. Selain itu, Din juga memiliki
harapan terhadap Bangsa Indonesia setelah menjalani puasa di Bulan Ramadan
dan merayakan lebaran. Berikut wawancara VIVAnews.com dengan Din Syamsuddin pada Jumat, 26
Agustus 2011: Apa makna Idul Fitri? Lebaran atau dalam bahasa Arabnya Idul Fitri adalah hari raya kesucian,
kekuatan, dan kemenangan. Kata fitrah mengandung ketiga unsur tadi. Oleh
karena itu, sesuai dengan arti kata fitrah, maka Idul Fitri adalah hari raya
kesucian, kekuatan, dan kemenangan. Kita berharap pada hari itu kita bisa sampai pada derajat tersebut. Saya
menghayati Idul Fitri sebagai momentum silaturahmi. Maka, Idul Fitri penuh
dengan silatarahmi ke keluarga, kerabat, dan handai taulan. Saat Idul Fitri, apa saja kegiatan Anda? Selain salat ya bersilaturahmi ke keluarga, sama anak-anak, adik-adik, sepupu
dan keluarga terdekat. Anda punya tradisi mudik? Tidak harus mudik, tapi kalau ada waktu senggang saya sempatkan pulang ke
kampung selama 3 atau 4 hari. Mengunjungi ibu saya. Namun, terkadang saya
tak perlu mudik, karena ibu saya sering ke Jakarta. Jadi kami berlebaran saja di
Jakarta bersama keluarga. (Din Syamsuddin berasal dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Saat ini, kerabat
di daerah asalnya masih banyak. Sang ibu, juga masih berdomisili di sana) Sebagai Ketua Umum Muhammadiyah, ada kegiatan khusus saat Lebaran? Sejak 2005, saya jadi Ketua Umum Muhammadiyah. Sejak itu hari pertama saya
saat Idul Fitri pasti ke Yogya. Karena, tradisi pimpinan di kantor pusat
Muhammadiyah pada hari pertama lebaran itu menggelar Syawalan. Dan di situ
ada ceramah tunggal dari ketua umum di kantor pusat. Biasanya saya ajak keluarga ke Yogya itu. Dari Yogya, saya langsung balik ke
Jakarta pada hari pertama itu juga untuk berlebaran di Jakarta. (Din menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah pada periode 2005-2010.
Dia terpilih lagi untuk masa jabatan 2010-2015) Anda menggelar open house, menerima tamu di rumah pada saat tertentu? Tidak pernah open house, tapi kalau ada orang datang ke rumah ya pasti saya
terima. Tidak ada waktu tertentu yang disiapkan khusus menerima tamu di
rumah saya. Tidak ada jadwal resmi. Selain itu, kalau silaturahmi saya jarang ke atasan, kecuali pernah satu atau dua
kali, saat jadi dirjen saya ke atasan. (Din Syamsuddin pernah menjabat sebagai Dirjen Pembinaan Penempatan
Tenaga Kerja, Depnakertrans RI periode 1998-2000) Alasan Anda? Alasannya, silaturahmi itu harusnya dari atas ke bawah, dari pemimpin ke
bawahan yang dipimpin. Karena yang potensial bersalah itu pemimpin, bukan
rakyat. Maka, saya tidak setuju kalau ada halal bihalal dikondisikan rakyat
berbondong-bondong ke pemimpin. Apalagi dengan iming-iming bingkisan atau uang, saya sangat tidak setuju.
Sehingga ada yang sampai meninggal seperti tahun lalu. Malah jadi
musibah. Manfaatnya memang selalu ada, tapi logikanya terbalik. Jadi yang
bersalaman itu harus pemimpin ke bawahan, bukan sebaliknya. Anda pernah menjalani Idul Fitri di luar negeri? Iya, tentu pernah, sewaktu saya sekolah di Los Angeles. (Setelah menuntut ilmu di Pondok Modern Gontor dan IAIN Jakarta, Din
Syamsuddin melanjutkan kuliahnya di University of California Los Angeles
(UCLA), USA, mengambil Interdepartmental Programme in Islamic Studies tahun
1998 untuk program magister. Din lalu melanjutkan sekolahnya di universitas
dan jurusan sama untuk programPh.d pada 1991) Apa kesan Anda saat itu? Tentu lain, tidak ada suasana seperti di tanah air. Selain itu juga kegembiraan
tidak seperti di Indonesia karena memang jauh dari keluarga. Artinya, di sana kita ketemu sesama orang Indonesia di konsulat kita, atau
paling tidak di Islamic Center. Tentu itu berkesan bagi saya. Ya mungkin bukan
perasaan minoritas, tapi suasana Idul Fitri yang tidak dominan, paling di Islamic
Center. Tapi sama-sama gembira dan berkesan. Apalagi kalau saat masih puasa,
waktu winter itu lebih panjang puasanya. Selama Lebaran Anda dikunjungi kolega non-muslim? Sangat banyak, bahkan mereka yang paling rajin mengirim parsel, mereka paling
rajin ke rumah pada hari raya pertama. Tanggapan Anda atas kunjungan mereka? Bagus, bagus. Mereka memberi ucapan selamat. Ini bukan masalah akidah, tapi
tentang aspek sosial. Ini merupakan bagian dari toleransi. Imbauan Anda sebagai tokoh masyarakat apa? Pesan saya mari kita maknai Idul Fitri sesuai maknanya, hari raya kemenangan,
kesucian, dan kekuatan. Intinya pesan utamanya silaturahmi, tingkatkan
silaturahmi. Kita pelihara nilai Ramadan, insyaf, jangan sampai kita jebol bersama
pelampiasan kita makan kue Idul Fitri. Idul Fitri bukan akhir, itu awal mengaplikasikan nilai-nilai Ramadan yang telah
kita jalani selama sebulan sebelumnya. Kita pelihara nilai Ramadan itu untuk
sebelas bulan ke depan. Harapan Anda untuk Indonesia setelah lebaran? Indonesia tetap bersatu. Perbedaan pendapat jangan menjadikan kita pecah.
Bagaimana Ramadan bisa kita terapkan dalam kehidupan, jangan ada perilaku
menyimpang seperti korupsi. Pemimpin yang korup harus bertobat,
menghentikan praktik itu.
Twitter Button from twitbuttons.com
Twitter Buttons

Iklan

Tag:

About adhinov

Trying start the day with kindness..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: